Berita Desa

Tumpek Krulut: Hari Raya Seni dan Cinta Kasih Umat Hindu

Sabtu (03/01/2026)

Tumpek Krulut: Hari Raya Seni dan Cinta Kasih Umat Hindu

ANGSERI,BATURITI - Dalam kalender Bali yang kaya akan tradisi, terdapat satu hari istimewa yang sering disebut sebagai "Hari Kasih Sayang" versi Hindu Bali. Hari tersebut adalah Tumpek Krulut. Jatuh setiap Sabtu Kliwon Wayang (setiap 210 hari sekali), Tumpek Krulut bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan perayaan mendalam terhadap keindahan seni dan ketulusan kasih sayang.

1. Asal-Usul dan Makna Kata

Secara etimologi, kata Krulut berasal dari kata Lulut (bahasa Jawa Kuno/Kawi) yang berarti jinak, asih, atau cinta. Kata ini menggambarkan perasaan senang, rasa memiliki, dan ikatan batin yang kuat.

Secara filosofis, Tumpek Krulut adalah hari untuk memuja I Dewa Iswara dalam manifestasinya sebagai pencipta keindahan dan suara-suara suci.

2. Manifestasi Seni: Upacara Gamelan

Salah satu ciri khas utama Tumpek Krulut adalah penyucian perangkat Gamelan (alat musik tradisional Bali). Umat Hindu percaya bahwa suara gamelan bukan sekadar bunyi, melainkan getaran suci yang mampu mengharmonisasikan jiwa.

  • Pemujaan: Masyarakat memberikan sesajen (banten) kepada instrumen gamelan sebagai bentuk syukur atas anugerah estetika.

  • Tujuan: Memohon agar suara yang dihasilkan gamelan dapat memberikan kesejukan hati, kegembiraan, dan aura positif bagi pendengarnya.

3. Reinterpretasi: Hari Kasih Sayang (Valentine-nya Bali)

Pemerintah Provinsi Bali melalui Instruksi Gubernur secara resmi mendorong perayaan Tumpek Krulut sebagai Hari Tresna Asih atau Hari Kasih Sayang. Hal ini bertujuan untuk menggeser fokus yang tadinya hanya pada benda (gamelan) ke arah hubungan antarmanusia.

Perayaan ini menekankan pada:

  • Empati: Menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama.

  • Keharmonisan: Mempererat hubungan keluarga, sahabat, dan pasangan.

  • Kemanusiaan: Melakukan kegiatan sosial seperti mengunjungi panti asuhan atau memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

4. Relevansi di Era Modern

Di tengah dunia yang semakin individualis, Tumpek Krulut mengingatkan kita pada dua hal krusial:

  1. Seni adalah Nutrisi Jiwa: Melestarikan budaya bukan hanya soal tradisi, tapi menjaga kesehatan mental dan spiritual melalui keindahan.

  2. Cinta adalah Perekat Sosial: Tanpa kasih sayang (Lulut), masyarakat akan mudah terpecah belah.

Harmoni Manusia, Alam, dan Tuhan

Akademisi kebudayaan menyatakan bahwa Tumpek Krulut adalah implementasi nyata dari konsep Tri Hita Karana. Dengan merawat gamelan (benda/alam) dan memperkuat kasih sayang (sesama manusia), umat Hindu sedang berupaya mencapai keseimbangan spiritual kepada Sang Pencipta.

Perayaan ini menjadi pengingat penting bagi generasi muda Bali bahwa di tengah gempuran modernisasi, rasa cinta kasih dan apresiasi terhadap seni adalah pilar utama yang menjaga masyarakat tetap harmonis dan beradab.

Humas Pemerintah Desa Angseri

 

Kontak: [email protected]

(Foto/Video: Dok. Humas Desa Angseri)

Beri Komentar